Selasa, 21 Februari 2012

Mike Mohede - Kemenangan Bersama Tuhan

      


"semua yang kita capai ini adalah karena Tuhan dan oleh Tuhan belaka, sehingga kita sama sekali tidak mempunyai alasan untuk menyombongkan diri"


      Saya belajar menyanyi sejak saya berusia 6 tahun. Awalnya saya diajari menyanyi oleh almarhum ayah saya yang walaupun bukan seorang penyanyi profesional, tetapi beliau gemar menyanyi. Kemudian saya mulai terjun didalam dunia tarik suara melalui paduan suara (choir) di gereja saya, namun saya masih belum berani menjadi seorang solis (penyanyi solo).

      Saat saya berusia 11 tahun, saya sangat suka mendengarkan lagu-lagu John Tanamal, Michael Jackson, Boys 2 Men, dll, dan dari situ saya mulai menyadari bahwa Tuhan memberikan talenta menyanyi kepada saya.

     Ternyata didalam perjalanan saya menggeluti dunia tarik suara ini, saya banyak diprotes oleh Tuhan. Pada awalnya saya kurang percaya diri pada waktu harus menyanyi solis (sendiri). Saya hanya mau menyanyi didalam acara-acara keluarga. Pada saat masa-masa di SMP dan SMA saya sempat menjadi seorang drummer.

     Ketika melanjutkan ke perguruan tinggi, saya mengambil jurusan Sastra Jepang. Tetapi saya menjalani masa kuliah dengan kurang bersemangat, sampai suatu hari saya dan keluarga harus menerima suatu kenyataan pahit cukup berat, ketika papa dipanggil menghadap Tuhan. Padahal papa merupakan tulang punggung di dalam keluarga kami, karena itu kepergian papa membuat kami semua terpukul. Hubungan saya dengan papa sangat dekat, dan yang sangat saya sesalkan, sampai dengan saat papa dipanggil Tuhan saya belum pernah menunjukkan sesuatu yang berarti buat papa saya, apakah itu prestasi ranking satu disekolah, atau apalah yang bisa membanggakan papa saya. Tidak hanya sampai disitu, saya melihat satu kenyataan yang cukup menyesakkan, mengharukan dan menyedihkan di mana saya melihat mama saya, harus membanting tulang untuk mencari uang bagi anak-anaknya. Saya melihat kenyataan itu berlangsung sampai tahun 2002 dimana kakak saya juga dipanggil Tuhan.

     Sebagai seorang anak laki-laki saya semakin merasa kasihan melihat ibu saya harus membanting tulang mencari nafkah untuk kami semua. Saya terdorong untuk bisa membantu, paling tidak dengan mencari nafkah untuk diri sendiri dan tidak menjadi beban keluarga. Suatu hari saat saya berdoa, saya mendengar sebuah suara Tuhan yang mengatakan : "Tenang Mike, biar perlahan tetapi pasti".

    Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup, Ia tidak tuli, Ia tidak buta, dan Ia tidak pernah memalingkan muka sekalipun, Dia dengan doa saya. Sungguh dahsyat kuasa doa, apalagi doa seorang ibu untuk anaknya itulah yang saya rasakan betul-betul selalu membantu saya didalam meniti langkah.

     Akhirnya saya memohon kepada mama untuk berhenti kuliah dan mengambil kursus vokal saja. Karena selain saya merasa bahwa itu bukan panggilan untuk saya, saya juga tidak ingin terlalu menjadi beban buat keluarga. Saya mengambil kursus vokal tersebut selama satu setengah tahun lamanya, dan disana saya bertemu dengan orang-orang yang mempunyai tujuan yang sama dengan saya, yaitu belajar mencari nafkah. Dan apapun yang saya raih, yang saya peroleh ataupun yang saya kehilangan, selalu saya ceritakan kepada mama.

Mike Mohede
      Suatu hari saat saya mengisi suatu acara bersama sebuah band, kami mendapati ada satu orang yang begitu antusias melihat penampilan kami. Ketika pengunjung lain bertepuk tangan, yang rasanya hanya untuk formalitas, tidak demikian halnya dengan orang tersebut, ia memberikan tepuk tangan dengan sangat bersemangat. Setelah kami selesai manggung baru kami mengetahui bahwa orang tersebut adalah Peter Ghonta, dan akhirnya kami diminta mengisi secara teratur di Jamz. Disitu Tuhan banyak sekali buka jalan buat saya yang tidak pernah terpikirkan oleh akal sehat saya sebagai manusia.

Peter Ghonta

       Suatu hari kami diminta untuk bermain di Java Jazz. Bagi seorang musisi, apalagi musisi pemula seperti saya, hal itu merupakan kebanggaan tersendiri boleh tampil di acara sebesar itu. Siapa sebenarnya kami sampai mendapatkan penghargaan yang sebegitu tinggi, itu semua tidak lain adalah semata-mata karena pertolongan dan kebaikan Tuhan belaka.

    Ibarat pion catur yang dijalanin, saya juga merasa Tuhan yang mengatur dan menjalankan hidup saya, Saya yang semula memiliki keinginan untuk menjadi seorang waiters atau seorang pelayan restaurant, ternyata Tuhan merancang yang lain.

     Pada tahun 2004 saya mencoba untuk mendaftar di acara Indonesia Idol, tetapi ternyata saya terlambat untuk menyerahkan formulirnya sehingga saya tidak bisa mengikutinya. Saya merasa bahwa Tuhan belum mengijinkan saya untuk mengikutinya. Pada tahun 2005, saat pendaftaran Indonesia Idol yang kedua dibuka, saya justru sudah melupakannya.


       Suatu hari saat saya pulang ke rumah di meja saya dapati panggilan dari Indonesia Idol untuk melakukan audisi. Saya terkejut, dan saya lihat lagi di bagian namanya dan benar yang tercantum di surat panggilan adalah nama saya. Setelah saya tanya-tanya, ternyata mama yang mendaftarkan saya di acara Indonesia Idol ini. Sungguh luar biasa kasih seorang ibu.

      Saya memasuki ruang audisi, saya lolos audisi tersebut, dan dapat melangkah ke babak-babak selanjutnya dengan lancar. Tetapi tiap kali saya mendapati kesulitan, ujian, dan rintangan, saya selalu berpegang pada firman Tuhan yang berbunyi : "jika Tuhan ada di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?"

    Pada saat grand final saya tidak menyangka bahwa saya yang akan menjadi pemenang dari Indonesia Idol yang kedua. Seperti yang mama selalu bilang kepada saya bahwa semua yang kita capai ini adalah karena Tuhan dan oleh Tuhan belaka, sehingga kita sama sekali tidak mempunyai alasan untuk menyombongkan diri.


Riwayat hidup Mike Mohede : http://id.wikipedia.org/wiki/Mike_Mohede

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar